hidupku adalah berputar dari roda melompat ke roda
seperti rembulan bersinar yang tatkala gerhana
kembali bergelantungan menarwarkan bunga nirwana dan wewangian surga
kusematkan peluru kedalam kepalaku
kumasukan racun kedalam tubuhku
kusisipkan bisa kedalam kulitku
sudah tak sabar rasanya diriku merasakan nikmatnya surga
karena teralalu lama mengecap pahit siksa neraka dunia
bencana dunia tak akan sepedih bencana yang mengelayutan didalam hati
kegelisahan akan ketidak bergunaan
tangisan akan penyesalan
hidupku berada didalam lembah logika
hatiku menjerit berasa ingin semua segera diakhiri
sampai sekarang saya belum tahu siapa diriku, dan kenapa aku ada disini
didunia ini,
aku memohon kepada Tuhan, hidupkan kembali panutanku, aku membutuhkan sesosok
dirinya, aku ingin mencium tangannya, aku ingin menjadi pembantunya.
disaat panah lepas dari busurnya...
ketika peluru meluncur deras dari senapannya...
kau yang selalu membuatku ingin berkaca..
kau yang selalu menyadarkan diriku hina..
disaat panah lepas dari busurnya...
ketika peluru meluncur deras dari senapannya...
kau yang memberiku tahu siapa diriku...
kau yang membisikkan tentang jati diriku...
disaat panah lepas dari busurnya...
ketika peluru meluncur deras dari senapannya...
kau yang memberikan misik wangi...
kau yang meniupkan terang mentari...
dalam pojok ruang, ku bergulingkan diri...
menikmati semerbak wewangi pribadimu sendiri...
ketika peluru meluncur deras dari senapannya...
kau yang selalu membuatku ingin berkaca..
kau yang selalu menyadarkan diriku hina..
disaat panah lepas dari busurnya...
ketika peluru meluncur deras dari senapannya...
kau yang memberiku tahu siapa diriku...
kau yang membisikkan tentang jati diriku...
disaat panah lepas dari busurnya...
ketika peluru meluncur deras dari senapannya...
kau yang memberikan misik wangi...
kau yang meniupkan terang mentari...
dalam pojok ruang, ku bergulingkan diri...
menikmati semerbak wewangi pribadimu sendiri...
telah kucoba untuk membutakan mata dan kutulikan telinga
saat bibir ini tak mampu lagi berkata
tapi, aku tak pernah mampu membutakan hati
dan menyuruhnya diam untuk berkata-kata
ketika perasaan itu datang
aku hanya mampu berusaha,
untuk tak merasakannya
namun hati ini selalu berkata bahwa
perasaan ini ada
kita memang tidak punya kata2 seperti yang mereka punya
tapi cinta tidak butuh itu semua
kita masih punya mata untuk melihat
punya hati untuk memahami
dan cinta harus diperjuangkan bagaimanapun caranya
bicaralah dengan hatimu
dengan sikapmu
karena dengan itu mereka tahu
saat bibir ini tak mampu lagi berkata
tapi, aku tak pernah mampu membutakan hati
dan menyuruhnya diam untuk berkata-kata
ketika perasaan itu datang
aku hanya mampu berusaha,
untuk tak merasakannya
namun hati ini selalu berkata bahwa
perasaan ini ada
kita memang tidak punya kata2 seperti yang mereka punya
tapi cinta tidak butuh itu semua
kita masih punya mata untuk melihat
punya hati untuk memahami
dan cinta harus diperjuangkan bagaimanapun caranya
bicaralah dengan hatimu
dengan sikapmu
karena dengan itu mereka tahu
Berani-beraninya rakyat jelata berteriak lantang kepada sang Raja. Bisa-bisanya budak lancang berkata pada Majikannya. Kurang jelas apa ketika pekatik menolak perintah juragannya. Kau ini punya daya apa berlaku seperti itu. Kamu itu bercermin apa berani berkata seperti itu. Dirimu itu siapa mendongak berlagak kuasa. Kau seperti ini itu ya karena kemurahannya, kau berdiri ini ya karena kebaikannya.
Hati-hati wahai yang disebut Engkau, lihat kembali siapa dirimu, kau itu hina.....
Berkali-kali aku mengalamai kejadian ini, berkali-kali terjatuh dan kembali berdiri. Mungkin kali ini adalah yang keseribu kali. Keseribu kali aku berdiri sendiri di ujung lembah tak bertepi. Seperti ujung jurang gelap yang tak terlihat, sukmaku meronta gila lantaran diperkosa. Seperti pecandu yang nadinya tersayat, hatiku sembilu disiram larutan gula. Aku melihat ada bintang yang bersinar terang di ujung seberang. Aku mendengar, seekor burung berkicau dengan riang. Aku membayangkan jika aku mampu keluar dari lingkaran setan, akan kutebar duka kuganti senang, kuhapus muram jadi girang kutulis puisi ini dan kukirimkan pada Tuhan.
Kepada Tuhan yang berada ditempat di jagat yang tak pernah mungkin terbatasi oleh apapun. Wahai Engkau Sang Maha Sempurna, Wahai engkau Sang Maha Pemberi dari semua permintaan ataupun bukan, Wahai engkau Sang Maha Baik dengan karunai rahmat maupun cobaan, peringatan.
Tujuan saya mengirimkan proposal ini adalah untuk mengembalikan pemberian-Mu berupa nafsu. Saya berharap bukannya saya tidak bersyukur atau apa, bukannya saya tidak tahu diri atau apa. Tapi saya belum mampu untuk menjaganya. Saya belum mampu untuk mengendalikannya.
Sebenarnya dengan nafsu ini, saya tahu kedudukan saya sebagai mahluk tersempurna diantara mahkluk-mahkluk-Mu Tuhan, namun sayapun tahu dengan nafsu ini saya bisa memiliki kedudukan lebih terhina diantara mahkluk-mahkluk-Mu juga.
Tapi untuk saat ini saya merasa nafsu ini hanya membawa malapetaka, dengan itu saya bermaksud mengembalikannya kepada-Mu Tuhan.
Tuhan aku Mencintai cinta
Tuhan aku mabuk karena cinta, aku tak tahu lagi keberadaanku
Aku tak tahu lagi keharusanku, aku tak tahu lagi hak-hak diriku
Tuhan aku mendamba cinta
Tuhan aku berharap cinta
Tuhan aku ingin menyatu dengan cinta
Tuhan ubah diriku menjadi cinta
Aku mencari cinta didalam wanita
Aku mencari cinta didalam harta
Aku mencari cinta didalam tahta
Tapi tak kutemukan seserpihpun rasa
Akhirnya aku mencari-Mu Cinta
Kau bimbing hati menuju-Mu Cinta
Merangkul berasama-Mu Cinta
Bersatu melebur kembali kedalam Cinta
Kita menyakini sebenarnya Bapa Adam dan Ibu Hawa itu bukan penduduk asli planet bumi ini. Mereka berdua adalah imigran, pendatang dari sorga. Melihat proses kepindahan mereka dari sorga, sebagaimana tercatat dalam lembaran kitab suci, boleh jadi mereka tidak diberi tahu, bahwa sejak awal mereka memang dipersiapkan untuk tinggal-sementara-di planet kecil ini.
Karena itu ~wallahu a’lam~ tidak sebagaimana penduduk sorga yang lain, Bapa Adam dan Ibu Hawa diciptakan dari bahan campuran yang sebagaian besar dari unsur bumi: tanah; dan sebagian yang lain dari unsur sorga: nur. Atau dengan ungkapan lain: mereka diciptakan dari tanah yang kemudian ditiupkan padanya ruh.
Bumi ini sendiri konon pernah dihuni oleh makhluk Allah yang diciptakan dari api (setan) dan asap (jin). Lalu mereka membuat kerusakan di muka bumi. Boleh jadi diantara kerusakan yang mereka perbuat adalah pencemaran terhadap tanah. Atau sebenarnya tanah yang menjadi bahan utama Bapa Adam dan Ibu Hawa itu sendiri aslinya memang sudah mempunyai kandungan api dan asap yang kemudian mewujud dalam apa yang sering disebut nafsu dan amarah. Wallahu a’lam.
Yang dari tanah ada yang kasat mata, yaitu jasad; ada yang tidak; yaitu nafsu dan amarah. Sementara yang dari nur atau ruh, tidak kasat mata. Kelak ketika mereka berdua menetap di bumi dan beranak-pinak, keturunan mereka pun masih memiliki “DNA” dengan unsur-unsur tersebut. Keturunan mereka yang disebut manusia, memiliki jasad yang kasat mata dan ruh, nafsu, serta amarah yang tak terlihat. Mereka memilih dalam diri mereka, kecuali kalbu atau hati nurani yang bersifat sorgawi. Disamping otak yang bisa diindra, mereka memiliki jiwa atau akal budi yang tak terindra.
Semua yang berasal dari tanah seperti jasad, nafsu, dan amarah, dimiliki juga oleh umumnya hewan. Hanya saja hewan tidak memiliki unsur nurani. Ini yang membedakan. Oleh karena itu, manusia yang tidak menyadari atau mengabaikan nuraninya, sering disebut tidak manusiawi alias hewani.
Boleh jadi karena dominasi unsur tanah yang dari bumi itulah yang membuat manusia menyukai bumi, sering kali bahkan berlebih-lebihan. Berbeda dengan nenek-moyangnya, Bapa Adam dan Ibu Hawa yang asli kelahiran sorga, umumnya manusia cenderung menganggap bumi atau secara maknawi juga disebut dunia ini sebagai tempat tinggal, menetap. Maklum Bapa Adam dan Ibu Hawa sedikit banyak sudah merasakan nikmatnya tinggal di sorga, sehingga bumi atau dunia ini bagi mereka hanyalah merupakan tempat transit sebelum kembali ke tempat tinggal asalnya. Bahkan mungkin mereka berdua tidak merasa nyaman di tempat transit ini, lantaran kerinduan dan ketidak sabaran mereka untuk kembali ke ‘kampung halaman’ mereka.
Karena itu ~wallahu a’lam~ tidak sebagaimana penduduk sorga yang lain, Bapa Adam dan Ibu Hawa diciptakan dari bahan campuran yang sebagaian besar dari unsur bumi: tanah; dan sebagian yang lain dari unsur sorga: nur. Atau dengan ungkapan lain: mereka diciptakan dari tanah yang kemudian ditiupkan padanya ruh.
Bumi ini sendiri konon pernah dihuni oleh makhluk Allah yang diciptakan dari api (setan) dan asap (jin). Lalu mereka membuat kerusakan di muka bumi. Boleh jadi diantara kerusakan yang mereka perbuat adalah pencemaran terhadap tanah. Atau sebenarnya tanah yang menjadi bahan utama Bapa Adam dan Ibu Hawa itu sendiri aslinya memang sudah mempunyai kandungan api dan asap yang kemudian mewujud dalam apa yang sering disebut nafsu dan amarah. Wallahu a’lam.
Yang dari tanah ada yang kasat mata, yaitu jasad; ada yang tidak; yaitu nafsu dan amarah. Sementara yang dari nur atau ruh, tidak kasat mata. Kelak ketika mereka berdua menetap di bumi dan beranak-pinak, keturunan mereka pun masih memiliki “DNA” dengan unsur-unsur tersebut. Keturunan mereka yang disebut manusia, memiliki jasad yang kasat mata dan ruh, nafsu, serta amarah yang tak terlihat. Mereka memilih dalam diri mereka, kecuali kalbu atau hati nurani yang bersifat sorgawi. Disamping otak yang bisa diindra, mereka memiliki jiwa atau akal budi yang tak terindra.
Semua yang berasal dari tanah seperti jasad, nafsu, dan amarah, dimiliki juga oleh umumnya hewan. Hanya saja hewan tidak memiliki unsur nurani. Ini yang membedakan. Oleh karena itu, manusia yang tidak menyadari atau mengabaikan nuraninya, sering disebut tidak manusiawi alias hewani.
Boleh jadi karena dominasi unsur tanah yang dari bumi itulah yang membuat manusia menyukai bumi, sering kali bahkan berlebih-lebihan. Berbeda dengan nenek-moyangnya, Bapa Adam dan Ibu Hawa yang asli kelahiran sorga, umumnya manusia cenderung menganggap bumi atau secara maknawi juga disebut dunia ini sebagai tempat tinggal, menetap. Maklum Bapa Adam dan Ibu Hawa sedikit banyak sudah merasakan nikmatnya tinggal di sorga, sehingga bumi atau dunia ini bagi mereka hanyalah merupakan tempat transit sebelum kembali ke tempat tinggal asalnya. Bahkan mungkin mereka berdua tidak merasa nyaman di tempat transit ini, lantaran kerinduan dan ketidak sabaran mereka untuk kembali ke ‘kampung halaman’ mereka.
Saat malam gelap sekitar tengah malam, kubiarkan lampu kamar kosku padam. Hanya aku buka kelambu sehingga cahaya rembulanlah yang masuk menyorot diriku yang berada dikamar. Ditemani gitar usang aku memetik dawai-dawai tak karuan, sambil membanyangkan mbak “itu”. Tak kusangka2 entah siapa ada apa gerangan terbentuklah bait-bait dan nanda harmoni kumaintan dg guitar..... sekirannya baitnya seperti ini dengan nada dasar C......
Intro : C, Am, Em, F
Oh siapakah geranganGadis berkedurung hitamYang sendari tadi memandang
Wajahmu oh yang berelokMembuat mataku berbelokMenikmati indah maha karya Tuhan
Izinkan aku, Untuk mengenalmuWalau kita tak saling bertemuIzinkan aku, tuk ketemu kamuWalau hanya, lewat mimpiku
Siapakah kamuSiapa namamuDimanakah tempat tinggalmu
Itulah kali pertama lagu yang aku buat... ndak niat buat, ndak niat main guitar tapi kubebaskan perasaan mengalir dalam hatiku kurasakan setiap emosi yang muncul kedalam hati dan tanpa kusadari jari-jemari mulai harmoni dan serasi dengan ucapan dari hati.... ^_^
Hatiku pecah lagi
Dosaku melimpahi
Setiap urat nadi
Hatiku pecah lagi
Janji pada Allah tidak terlunasi
Kantung amalku ringan tidak terpenuhi
Hatiku pecah lagi
Sesak dunia fana ini
Aku ditengahnya terhimpit diri
Hatiku pecah lagi
Tangis rindu padaMu ya Rabbi
Makin jauh atau mampirkah diri ini
Hatiku pecah lagi
Jiwa selimut ghaflah duniawi
Parah menjerit sendiri
Hatiku pecah lagi
CintaMu ingin kudakapi
Retorikkah atau hanya ilusi
Hatiku pecah lagi
Jalan menemuiMu
Seringku tangguhi
Hatiku pecah lagi
Ya Allah
Tidak ingin aku selain dariMu
Hanya Redha CintaMu puncak harapanku
Hanya mengingatiMu ingin kujejaki..
Hanya RahmahMu ingin kujelajahi
Ingin lari dari selainMu
Ingin uzlah dari mimpiku
Ingin tajrid ghaflah duniaku
Dosaku melimpahi
Setiap urat nadi
Hatiku pecah lagi
Janji pada Allah tidak terlunasi
Kantung amalku ringan tidak terpenuhi
Hatiku pecah lagi
Sesak dunia fana ini
Aku ditengahnya terhimpit diri
Hatiku pecah lagi
Tangis rindu padaMu ya Rabbi
Makin jauh atau mampirkah diri ini
Hatiku pecah lagi
Jiwa selimut ghaflah duniawi
Parah menjerit sendiri
Hatiku pecah lagi
CintaMu ingin kudakapi
Retorikkah atau hanya ilusi
Hatiku pecah lagi
Jalan menemuiMu
Seringku tangguhi
Hatiku pecah lagi
Ya Allah
Tidak ingin aku selain dariMu
Hanya Redha CintaMu puncak harapanku
Hanya mengingatiMu ingin kujejaki..
Hanya RahmahMu ingin kujelajahi
Ingin lari dari selainMu
Ingin uzlah dari mimpiku
Ingin tajrid ghaflah duniaku
Agar
Hatiku tidak pecah lagi
Agar
Hatiku selesa memugar rahasia
Pekat malam hari
Pengalaman pertama berkunjung ke tempat rakyat, “Pasar Maling” atau lebih kerennya disingkat sarling. Awalnya saya dan dua teman saya berniat jalan-jalan untuk melihat-lihat harga Hp di salah satu Mall di kawasan Surabaya, ya Alhamdulillah kami bertiga dapat beasiswa yang jumlahnya tidak cukup banyak tapi bisalah buat beli Hp baru hehehe. Kami berangkat menuju mall tersebut dan sekitaran jam setengah sembilan malam kami sampai. Salah satu temenku berniat ingin membeli Hp dengan OS Android. Setelah sekitar satu jam berkeliling namun belum menemukan harga yang cocok akhirnya kami memutuskan untuk ndak jadi beli dan ngopi disalah satu daerah di dekat sarling.Alhasil disana kami tidak jadi ngopi karena banyak pedagang yang menawarkan Hp dengan harga yang luar biasa fantastis, murah bin meriah. Yang normalnya harganya bisa mencapai 7-9 juta disana dijual dengan harga 600 ribu lengkap dengan diskbook. Sempat terkaget-kaget dan kehilangan kemampuan berbicara setelah tahu harganya sekian. Dan akhirnya saya pencet-pencet Hp tersebut memastikan apakah Hp itu masih berfungsi dengan baik atau ndak, dan memang Hpnya dalam kondisi prima. Karena harganya yang sangat tidak wajar, hati ini bingung untuk beli, wes ndak jadi wes akhirnya... ( itulah manusia, repot kemahalan ngak beli, dikasih sangat murah was-was dan akhirnya ndak jadi beli juga ).
Akhirnya kembali ketujuan awal, yakni ngopi hehehe. Dan menujulah kami ke mer, sebuah kawasan didekat kampus STIKOM Surabaya, tempatnya lesehan nyaman, lampunya remang-remang dan yang pasti ndak banyak nyamuk (karena biasanya Surabaya adalah tempat mangkal batalion infantri nyamuk untuk cari asupan nutrisi). Dan tak terasa kami ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon sampai jam setengah satu tengah malam, hihihi ( bukan suara hantu, Cuma karena yang dibicarakan menimbulkan tawa hihihihi).
Ya itulah pengalaman pertama saya berkunjung menziarahi tempat rakyat, disela-sela bangunan mall-mall megah yang menyisakan sebuah masalah dalam pertumbuhan ekonomi ( bukan pemerataan Ekonomi ) bangsa ini, Bangsa Indonesia.....
Setelah kurang lebih 3,5 bulan saya ndak pulang mengunjungi rumah, padahal hanya butuh waktu 1,5 jam perjalanan akhirnya saya pulang juga. Banyak sekali yang berubah ternyata hanya dalam tempo itu. Sedikit asing namun keramahan akan desa tetap hangat menyapa di setiap burai kata-kata para tetangga. Halaman, buah mangga di depan, ketawa bocah-bocah kecil bermain gundu, membawa memori masa-masa kecilku kembali menyusuri jalanan, sudut gang sawah di samping rumah.
Hal indah yang saya sangat bersyukur pada Tuhan karena terlahir sebagai anak desa adalah anak yang masih bisa menikmati indahnya alam maha karya Tuhan yang tak akan mampu tertandingi oleh rancangan arsitek manapun juga.
Dan diwaktu yang singkat itu pula sebelum saya kembali untuk menjalani rutinitas di luar kota, saya disempatkan oleh Tuhan melihat indahnya makhluk ciptaan-Nya. Mbak “Itu” yang sampai sekarang saya masih mengendap-endap, mencuri-curi pandang, menahan keinginan karena kuatnya kegengsian untuk terus terang bilang, “Mbak maaf saya lupa nama anda, Bolehkah saya minta nomer Hp mbak, atau add Facebooknya mbak lah, biar lebih gampang komunikasinya...!!!!”.
Akhirnya karena kekerdilan nyali saya, Saya hanya membuntuti dia perlahan-lahan yang sedang menaiki sepeda “ontel” terus sampai didepan rumahnya. Oh disitu ternyata rumahnya, rumah sederhana asri nan nyaman. Di hati saya ya lumayan lah, meski masih belum dapat nomer Hp, paling ndak tahu lah kemana jika misal saya hendak menemuinya, hehehe.
Memang, waktu sesingkat apapun di kampung halaman adalah saat-saat yang amat sangat membahagiakan. Entah hanya sekedar melihat pohon mangga dihalaman, menghirup udara desa yang menyegarkan, memandang bocah-bocah berlarian, membuntuti Mbak “itu” dari belakang, dan yang paling nyaman adalah bersama keluarga, tertawa, makan, nonton TV, cerita, melepas semua kerinduan.....
Trowulan
Hal indah yang saya sangat bersyukur pada Tuhan karena terlahir sebagai anak desa adalah anak yang masih bisa menikmati indahnya alam maha karya Tuhan yang tak akan mampu tertandingi oleh rancangan arsitek manapun juga.
Dan diwaktu yang singkat itu pula sebelum saya kembali untuk menjalani rutinitas di luar kota, saya disempatkan oleh Tuhan melihat indahnya makhluk ciptaan-Nya. Mbak “Itu” yang sampai sekarang saya masih mengendap-endap, mencuri-curi pandang, menahan keinginan karena kuatnya kegengsian untuk terus terang bilang, “Mbak maaf saya lupa nama anda, Bolehkah saya minta nomer Hp mbak, atau add Facebooknya mbak lah, biar lebih gampang komunikasinya...!!!!”.
Akhirnya karena kekerdilan nyali saya, Saya hanya membuntuti dia perlahan-lahan yang sedang menaiki sepeda “ontel” terus sampai didepan rumahnya. Oh disitu ternyata rumahnya, rumah sederhana asri nan nyaman. Di hati saya ya lumayan lah, meski masih belum dapat nomer Hp, paling ndak tahu lah kemana jika misal saya hendak menemuinya, hehehe.
Memang, waktu sesingkat apapun di kampung halaman adalah saat-saat yang amat sangat membahagiakan. Entah hanya sekedar melihat pohon mangga dihalaman, menghirup udara desa yang menyegarkan, memandang bocah-bocah berlarian, membuntuti Mbak “itu” dari belakang, dan yang paling nyaman adalah bersama keluarga, tertawa, makan, nonton TV, cerita, melepas semua kerinduan.....
Trowulan
Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaNya, serta "Allah mencintai orang-orang bertobat dan orang-orang yang bersih" inilah resep tobat yang bernama "PIL PAHIT" perhatikan resep ini jika kamu kerjakan, maka kamu akan mendapat penyembuhan dari Allah. Ambilah akar-akar kemelaratanmu dengan jiwa kesabaran, lalu campurkan dengan bubuk pikiran dan campurkan juga (kadarnya sama) dengan rendah hati dan keikhlasan, kemudian ditumbuk semua dalam lumbung taubat dan dibasahi dengan air mata penyesalan, lalu di tempatkan dalam tempat rendah diri kepada Allah dan dimasak dengan api tawakal kepadaNya. setelah itu aduk dengan sendok istigfar sehingga tampak taufik dan kehormatan diri,kemudian dipindahkan kemangkuk cinta dan dinginkan dengan udara kasih sayang, sesudah disaringkan dengan saringan kesusahan dan ditambah dengan hakikat iman serta campurkan dengan takut kepada Allah. minumlah obat ini selama hidupmu dan hatimu akan sembuh dari segala keluhan dan akan hilang rasa penyakit dosa.
http://www.facebook.com/topic.php?uid=94438400765&topic=15357#!/topic.php?uid=94438400765&topic=15355
http://www.facebook.com/topic.php?uid=94438400765&topic=15357#!/topic.php?uid=94438400765&topic=15355
Opo sakjane, ono wong kang pancen diciptakne dadi wong kang ala? Koyoto firaun kang diciptakne dadi wong kang ala dumadi musuh e Nabi Musa. Umpamane ora ana wong koyo Firaun, terus opo kang dadi tugas e Nabi Musa?
Setan makhluk e Gusti Allah, sing mbangkang ora gelem nurut i dawuh, sujud marang Nabi Adam, yen setan kala kuwi gelem nurut i dawuh e Gusti Allah sujud marang Nabi Adam, terus musuh e wong ning ndonyo iki sopo?
Kula nyuwun ngapunten sakderenge marang Gusti Allah amergi pikiran-pikiran niki tersirat ning awang-awang. Anyel banget karo awakku dewe iki, nyapo kok dadi wong apik kuwi angel tenan?
Mugi-mugi sedoyo saget ngelampahi panguripan niki persis koyo dawuhipun Gusti Allah marang kitab suci Al’Quran lan biso nindakake koyo tuladhane Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Mugi-mugi kita sedoyo terus pikantuk rahmatipun Gusti Allah lan Syafaatipun Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Markembloh didaulat oleh para warga KPMb (Konsorsium Para Mbambung) untuk pidato tentang globalisasi. Markesot bertindak sebagai protokol alias MC, juga moderator kalau nanti terjadi perdebatan.
"Saudara-saudara sekalian. Globalisasi. Apakah globalisasi? Tahukah saudara-saudara apa gerangan globalisasi?"
"Wah, pakai gaya Al-Quran...," seletuk Markedet, "Al-qari'atu mal Qari’ah wa maa adroka mal qori’ah…"
"Mengertikah saudara-saudara apa itu globalisasi?" Kata Markembloh lagi.
"Tidaaaaak!" jawab anak-anak KPMb serentak
"Jadi untuk apa saya berbicara kepada orang-orang yang tidak mengerti?"
"Mengertiiiii!" jawab mereka lagi.
"Jadi tidak perlulah saya menjelaskan sesuatu kepada orang yang toh sudah mengerti."
"Gendheng "
"Gendheng tapi lak jujur! Gendheng tapi lak gak tahu mbujuki! Gak tahu korupsi! Gak tahu ngramrok! Gak tahu nggusur!..."
Palu diketokkan ke meja keras-keras oleh Markesot. "Gendheng. Jangan gendheng. Gendheng tak ada gunanya. Gendeng boleh saja, asal ada perlunya."
"Lho itu 'kan lagu Begadang!" teriak anak-anak.
Markesot memukulkan palu lagi. "Markembloh boleh saja gendheng, asal tidak merugikan forum dan tetap disesuaikan dengan era globalisasi. Ayo cepat mulai lagi pidatonya!"
Markembloh mulai lagi.
"Globalisasi, Saudara-saudara!" katanya, "adalah mengumpulkan lombok, brambang, bawang, garam, dan terasi, jadi satu di cowek atau layah, kemudian diuleg sampai campur dan merata semua. Atau, globalisasi adalah menuangkan air panas, gula, kopi campur keringat sedikit, lantas diaduk sampai larut satu sama lain."
"Oooooo...!" anak-anak koor.
"Globalisasi adalah dibukanya pintu-pintu dunia sehingga bulatan kehidupan di muka bumi ini campur menjadi satu. Globalisasi ialah dirobohkannya sekat-sekat yang semula memisahkan suatu kelompok masyarakat dengan kelompok lainnya. Globalisasi adalah berperannya sarana-sarana informasi dan komunikasi sehingga semua manusia di dunia saling bersentuhan, bergaul, mempengaruhi satu sama lain. Take and give. Mengambil dan memberikan. Menerima dan menyodorkan."
"Oooooo...!" koor anak-anak lagi.
"Yang satu take, lainnya tinggal give!"
"Lho, lho, lho, lho...," anak-anak terperangah.
"Yang satu memberikan, lainnya tinggal menerima. Yang satu mempengaruhi, lainnya dipengaruhi. Adil, bukan?"
"Adil dengkulmu mlicet!"
"Sama dengan antara hak dan kewajiban yang dibagi rata. Sekelompok masyarakat memperoleh hak kelompok lainnya mendapatkan kewajiban."
"Lho, lho, lho, lho...."
"Nilai-nilai dari negara kuat, modal kuat, ekonomi kuat, militer kuat, disodorkan kepada yang lemah. Barat mempengaruhi Timur. Utara menentukan Selatan. Atas mengatur Bawah. Pusat menggiring Pinggiran. Film-film Hollywood diputar di TV Surabaya, tapi ludruk dan jaran kepang tak perlu dipertunjukkan di Los Angeles.
"Supermarket, Mc. Donald, Kentucky, Honda, Bellini, dibyuk-kan ke kampung-kampung kita, tapi supaya adil warung pecel, clurit, jajan rondho kemul, bolcino, gledekan, cikar, gludug meduro, tak usah dipopulerkan di Kyoto dan Stockholm.
"Pokoknya yang satu saja yang memberi, lainnya tinggal menerima. Filsafat, ideologi, pola strategi dan arah tujuan pembangunan kita juga harus meniru negara-negara Utara; jangan mereka yang disuruh meniru kita. Pokoknya globalisasi itu edisi berikut dari westernisasi, baju baru dari hegemoni kekuatankekuatan Utara, restorika baru dari keadikuasaan yang menimpa kita semua.
"Mau tidak mau kita harus diperkosa. Lha daripada dan merasa tersiksa,'kanmending menikmati pemerkosaan. Dengan kata lain, Saudara-saudara, yang kita lakukan sekarang ini sesungguhnya bukan globalisasi, melainkan neo-sentralisasi..."
Diriku adalah debu, kotoran yang tidak dipandang. Pergi ketempat satu ke tempat lain, tergantung angin membawaku kemana. Kuserahkan angin membawaku pergi, aku hanya bisa menutup mata. Namun angin tak sebaik yang aku kira dia membantingku, melemparku,
menjatuhkanku. Angin hanya menyakitiku namun entah mengapa aku tetap mau saja dipermainkan dikemudikan olehnya. Aku selalu takut untuk melawan berat terpaannya. Padahal banyak debu2 lainnya yang berhasil menahan terpaan dan menceritakan rasa sakit menahan terpaan angin tak sesakit akibat bantingan angin jika kita menurutinya. Aku selalu gagal, gagal beristiqomah
(Jenar Effendi)
menjatuhkanku. Angin hanya menyakitiku namun entah mengapa aku tetap mau saja dipermainkan dikemudikan olehnya. Aku selalu takut untuk melawan berat terpaannya. Padahal banyak debu2 lainnya yang berhasil menahan terpaan dan menceritakan rasa sakit menahan terpaan angin tak sesakit akibat bantingan angin jika kita menurutinya. Aku selalu gagal, gagal beristiqomah
(Jenar Effendi)
akan ke manakah angin melayang
tatkala turun senja nan muram
pada siapa lagu kuangankan
kelam dalam kabut rindu tertahan
datanglah engkau berbaring di sisiku
turun dan berbisik tepat di sampingku
belenggulah seluruh tubuh dan sukmaku
kuingin menjerit dalam pelukanmu
akan kemanakah berarak awan
bagi siapa mata kupejamkan
pecah bulan dalam ombak lautan
dahan-dahan di hati berguguran
(Emha Ainun Nadjib)
tatkala turun senja nan muram
pada siapa lagu kuangankan
kelam dalam kabut rindu tertahan
datanglah engkau berbaring di sisiku
turun dan berbisik tepat di sampingku
belenggulah seluruh tubuh dan sukmaku
kuingin menjerit dalam pelukanmu
akan kemanakah berarak awan
bagi siapa mata kupejamkan
pecah bulan dalam ombak lautan
dahan-dahan di hati berguguran
(Emha Ainun Nadjib)
Sedikit memberi definisi Cinta, yang sebenarnya tak ada kata, frasa, kalimat, bait, paragraf yang mampu memaknainya.....Plato bertanya akan cinta dan kehidupan … Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya? Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian
ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling
menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” . Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?” Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa
satu saja,dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil
sebatangpun pada akhirnya” Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”
Aku memohon kepada Tuhan semesta penguasa hati setiap Manusia, Sang Maha Cinta dengan rahmatnya, Sang Maha Pemurah dengan Ampunannya, Sang Maha Iba melihat hambanya tak berdaya dianiyaya.
Aku telah lama hidup dalam dunia, menyelam kedalam hina, terluka karena duri-duri derita. Tuhan demi namamu Sang Maha Iba, lepaskan aku dari semua luka, Tuhan demi hati kecil yang telah hitam karena dosa, lepaskan tali yang terus menungganginya. Tuhan berilah aku Cinta yang mampu kembali menjadikan hatiku seperti cahaya,
Tuhan buatkanlah lentera yang tak pernah padam menerangi jalannya darah menuju kedepan, tak salah alir berbelok memberi makan sumber dorongan berbuat haram. Tuhanku kepada siapa lagi aku meminta cinta jika tidak kepadaMu Sang Maha Cinta, Tuhanku kepada siapa lagi aku mengadu saat diriku dibelenggu nafsu. Tuhanku tariklah aku kedalam pelukan rahmatMu. Tuhanku berilah aku senjata melawan keburukan dalam diriku.
Aku telah lama hidup dalam dunia, menyelam kedalam hina, terluka karena duri-duri derita. Tuhan demi namamu Sang Maha Iba, lepaskan aku dari semua luka, Tuhan demi hati kecil yang telah hitam karena dosa, lepaskan tali yang terus menungganginya. Tuhan berilah aku Cinta yang mampu kembali menjadikan hatiku seperti cahaya,
Tuhan buatkanlah lentera yang tak pernah padam menerangi jalannya darah menuju kedepan, tak salah alir berbelok memberi makan sumber dorongan berbuat haram. Tuhanku kepada siapa lagi aku meminta cinta jika tidak kepadaMu Sang Maha Cinta, Tuhanku kepada siapa lagi aku mengadu saat diriku dibelenggu nafsu. Tuhanku tariklah aku kedalam pelukan rahmatMu. Tuhanku berilah aku senjata melawan keburukan dalam diriku.
Ini sedikit cerita lucu yang berasal dari teman saya. Entah kenapa tiba-tiba dia mengirimku sebuah cerita lucu, namun cerita ini menggunakan bahasa jawa, jadi buat teman-teman yang tidak memahami khaidah bahasa jawa mungkin kurang begitu tanggap. Ceritanya seperti ini :
CERPEN JOWO
CERPEN JOWO
Ono wong ndeso mlebu kutho, jenenge Pak Joko. Teko khuto Pak Joko bingung weruh bangunan gedhe-gedhe...
Pas ning ngarep BANK, Pak Joko moco tulisan OPEN... Pak Joko mikir, OPEN kok gedhe banget???? Terus rotine sepiro???? Ono BULE arep mlebu BANK kuwi, Pak Joko mbengok.....
"Mas ojo mlebu iku Open!!!!", Bule tetep mlebu.
Ora suwe ono wong NEGRO metu, Pak Joko ngomong, "Lha dala.... Dikandani ojo mlebu OPEN kok ngengkel wae..., gosong tho awakmu...!!!"
Langganan:
Postingan (Atom)















