J udul artikel ini merupakan gabungan dari kata-kata yang dikarang oleh Cak Emha Ainun Najib. Kata disini sangat mengandung makna mistikus arti, sungguh beliau benar-benar seorang kyai, budayawan, dan sastrawan luar biasa yang saya kagumi.
Sebenarnya dalam artikel ini sedikit saja saya menjelaskan tentang hasil renungan dan taffakur semalam ketika usiaku genap berumur 20 tahun. Dimalam itu saya terus berintrospeksi diri selama usiaku ini. Saya merasa belum bisa apa-apa, belum melakukan apa-apa. Melihat semua orang sudah terbang jauh tinggi, diri ini hanya bisa terpukau melihatnya.
Sabar, kata sabar yang terlintas dalam besitan pikiran.
Sabar merupakan Proses, dan Proses Merupakan Gerakan(Tindakan Menuju Perubahan)
Merenungi setiap makna kata Sabar, Proses, dan Gerakan. Menafsirkan Relasi dari ketiga kata itu.
H idup perlu disyukuri, itulah kata yang aku temukan disebuah kedai warung cak Wins di daerah kertajaya Surabaya. Ketika selesai menyantap hidangan dan tak sengaja mata memandang sebelah kiri agak jauhan terdapat dua sejoli yang sedang makan berdua.

Entah mengapa aku sangat bahagia melihat mereka, tidak ada rasa iri ingin diposisi mereka, namun merasa ikut bahagia, ikut tersenyum melihat mereka tersenyum, serasa aku juga bisa merasakan kebahagian mereka. Melihat dua sejoli itu sedang bercanda dan tersenyum simpul, sungguh melihat itu aku juga merasa sangat bahagia. Setelah keluar dari kedai makan itu, diriku masih saja heran kenapa aku bisa merasakan ikut berbahagia seperti ini, padahal aku bukan siapa-siapa mereka. Dengan melihat mereka saja aku sudah bersyukur. Dari situ aku mendapatkan sebuah makna, hidup harus disyukuri dan dinikmati. Tidak ada yang susah dalam hidup ini, aku masih bisa makan 3 kali sehari, orang tua masih selalu memenuhi semua kebutuhanku, tapi selalu saja aku sering merasa susah dalam menjalani hidup akhir-akhir ini.
Tapi semenjak kejadian itu, aku berencana tidak akan lagi merasakan susah dalam hidup ini, setiap hembus nafas, setiap kedipan mata, setiap detak jantung. Hal yang pernah terjadi setiap saat diwaktu tertentu ditempat tertentu tidak akan pernah sama, jadi tak ada alasan bagiku lagi untuk merasa bosan ataupun merasa susah. Karena setiap pendengaran, penglihatan, perasaan yang aku rasakan tidak akan pernah terulang, dan itu menjadi indah karenanya.
Setiap alunan musik ditelinga, setiap belaian hembusan angin menerpa, setiap irama alam dan manusia dalam memutar roda, setiap itulah kebahagiaan ada. Tinggal diriku yang dulu buta tak memperhatikan.
S ebelum saya menulis beberapa kalimat ini. Yang menginspirasiku adalah 2 bocah kecil yang menaiki pagar besi rumah. Ketika saya hendak berwudlu, aku melihat teman satu kosku mau menutup pagar kos yang terbuat dari besi, pagar yang dapat digeser karena memiliki roda di bagian bawah. Sebelum dia mau menggeser untuk menutup pagar itu, ada dua bocah yang memohon untuk menaiki pagar itu dan setelah itu barulah menyuruh si kakak tadi mendorong pagar agar mereka bisa menaiki pagar yang menggelinding. Ketika pagar mulai di gerakkan dan menggelinding rodanya, dua bocah tadi tertawa dengan lucu dan lugunya. Seketika aku melihat, aku tersenyum karena melihat kedua bocah itu.
Dari peristiwa itu lalu terbesit dalam pikiranku untuk kembali menjadi anak kecil lagi. Aku membayangkan sewaktu aku masih kecil, sewaktu aku taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Sungguh menyenangkan waktu itu. Semua kejujuran terpancarkan dari seorang bocah. Yang kurasakan waktu itu hanyalah bermain dan aku senang. Tapi terkadang ketika ada orang dewasa melakukan hal-hal yang yang kita belum boleh lakukan, aku merasa ingin cepat menjadi orang dewasa. Dan selalu terbesit keinginan agar cepat besar dan bisa melakukan lebih banyak hal tanpa larangan dari orang-orang. Masih inggat jelas ketika pertama kali aku ingin menyalakan api, ayahku melarang. Terus aku melihat orang-orang lainnya bisa menggunakannya, tapi kenapa aku dilarang. Sungguh ketika kejadian-kejadian seperti itu, ingin sekali aku segera besar dan melakukan hal-hal yang selalu dilarang oleh orang tuaku dengan alasan karena aku anak kecil.

Namun setelah usiaku hampir 20 ini, justru melihat 2 bocah yang berayun di pagar tadi, membuat aku ingin menjadi bocah lagi, aku ingin menaiki sepeda kecilku dan mengayuhnya sekencang-kencangnya dan merasakan setiap dorongan angin yang mengenai wajahku. Disitu aku melihat seyuman anak-anak yang sangat khas, penuh dengan kejujuran.

Tapi memang seperti ini lah hidup ini. Rodanya selalu berputar dan tak akan kembali lagi. Sekarang aku sudah hampir berumur 20. Dan aku memang bisa melakukan hal-hal yang dari dulu ingin aku lakukan sejak anak-anak. Namun perasaan gembira itu malah tidak sebesar sewaktu aku masih kecil, sewaktu aku malah masih dilarang untuk berbuat ini dan itu. Kesalahan yang dulu aku tidak pikirkan sewaktu masih kecil dan ingin cepat menjadi dewasa adalah tanggung jawab. Dulu aku tidak berpikir kalau seiring bertambahnya usia kita semakin banyak tanggung jawab yang akan kita bawa. Ketika dulu kita pulang dan meminta makan dan disediakan, sekarang aku harus mencari nasi sendiri untuk menyuapkan kedalam mulutku. Saat aku melakukan kesalahan, orang tuaku yang sibuk untuk memperbaikinya, akupun tenang-tenang saja. Semua hal bahkan sampai dengan kepentingan diriku sendiri bukan aku yang menanggungnya.

Tapi semenjak mulai semakin banyak tanggung jawab, semakin kita harus mampu berusaha untuk berdiri sendiri, semakin kita memiliki banyak pilihan untuk melakukan hal, semakin susahlah apa yang kita hadapi. Semakin banyak pikiran dalam otak ini. Maka semakin pudarlah senyuman khas anak kecil itu.
SENYUMAN KEJUJURAN